Berhari.com – Kota Mojokerto merupakan salah satu daerah terkecil di Indonesia, yang menjadi kota peyangga perekonomian di Jawa Timur. Hanya memiliki tiga kecamatan dengan jumlah penduduk 139.807 jiwa, tidak membuat wilayah ini kekurangan daya tarik.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari, kota berjuluk Bumi Majapahit ini berkembang sangat pesat. Mulai dari meningkatnya perekonomian daerah melalui pemberdayaan dan pendampingan masyarakat.
Pelayanan kesehatan secara paripurna, dengan metode door to door yang dilakukan langsung oleh tenaga Prameswari dan Kader Motivator. Gratisnya pendidikan dan penyediaan layanan transportasi bagi pelajar. Hingga, pembangunan infrastruktur sebagai penunjang kebutuhan masyarakat.

Sebagai kota peyangga, Mojokerto mampu menghasilkan berbagai produk unggulan daerah melalui tangan-tangan IKM dan UMKM. Bahkan, kualitas produk yang dijual mampu menembus pangsa nasional dan internasional. Seperti halnya, alas kaki, batik khas Majapahit, furnitur hingga aneka handmade.
Keberhasilan ini, tidak lepas dari program pemberdayaan dan pendampingan yang getol dilakukan oleh Wali Kota Ning Ita (sapaan akrab Ika Puspitasari). Melalui pelatihan dan inkubasi tersebut, lahirlah wirausaha baru di Kota Mojokerto yang berdaya dan mandiri.
Dengan banyaknya masyarakat yang mandiri, membuat jumlah kemiskinan di Kota Mojokerto turun drastis. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Jawa Timur, kemiskinan di Kota Mojokerto hanya mencapai 1,45. Yang artinya, kesejahteraan masyarakat Kota Mojokerto terus meningkat.
Selain dari pelatihan dan inkubasi, pemerintah daerah juga berhasil menurunkan angka kemiskinan melalui bantuan untuk Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dari Program Keluarga Harapan (PKH). Dimana, ada ratusan penerima PKH yang tergraduasi atau menyatakan mandiri.

Salah satunya adalah Sutarti, warga Lingkungan Suratan Ngaglik, Baitul Makmur 6, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Kranggan. Ia merupakan salah satu penerima bantuan pangan non tunai (BPNT) setiap bulannya. Namun, ia memilih mandiri dengan berjualan kue.
“Saya penerima bantuan sejak tahun 2013. Tapi saya memilih mandiri dengan berjualan. Ini semua berkat pendamping dan pelatihan yang diberikan pemerintah. Terimakasih Ning Ita, saya mandiri, saya siap berwirausaha,” kata perempuan 52 tahun ini.
Pengentasan kemiskinan ini, tidak lepas dari tekad Wali Kota Ning Ita dalam menyongsong wajah baru Kota Mojokerto sebagai Kota Pariwisata, berbasis sejarah dan budaya. Perlahan tapi pasti, Kota Mojokerto mulai bertransformasi. Tidak hanya dari segi masyarakat, namun juga pembangunan infrastrukturnya.
Adapun pembangunan infrastruktur kepariwisataan yang dilahirkan oleh Wali Kota Ning Ita, tidak lain meliputi Wisata Bahari Majapahit, Rest Area Gunung Gedangan, Alun-alun Wiraraja, Pemandian Sekarsari, Monumen Tribhuwana Tunggadewi, Galery Soekarno Center, Skywalk Mojopahit, Rumah Rakyat dan masih banyak lainnya.
Melihat keberhasilan pembangunan infrastruktur daerah, pemberdayaan kepada masyarakat hingga pemberian pelayanan secara paripurna, tak heran jika Kota Mojokerto menduduki peringkat pertama sebagai, Kota Terinovatif 2022 pada Innovative Government Award (IGA).