Berhari.com – Opera Gayatri dalam Gaung Sakala Bumi Majapahit, digelar di Halaman Pusat Informasi Majapahit, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, pda Sabtu malam, 04 November 2023. Pentas drama musikal dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Majapahit ke-730 yang menceritakan sosok Gayatri tersebut, mampu menghipnotis penonton.
Penataan panggung dengan balutan cahaya nan artistik dan pelakon yang menjiwai perannya dalam bertutur Jawa Kuno, menjadi kolaborasi epik. Selama dua jam pementasan Opera Gayatri Majapahit, penonton diajak menyelam untuk menelusuri masa abad 14 masehi.
Opera Gayatri Majapahit ini di sutradarai, Mia Johannebes atau akrab disapa Myjo, sekaligus penulis naskah. Sedangkan pentas musik dari alat musik tradisional seperti gemelan, tifa, dan kecapi, dimainkan Indonesian National Orchestra, pimpinan Franky Raden.
Dalam beberapa babak, Opera Gayatri Majapahit tersebut menceritakan perjalanan hidup putri bungsu Raja Kertanegara dan Sri Bajradewi. Mulai dari lahirnya Gayatri hingga ia menjadi sosok yang memiliki andil besar berdirinya Kerajaan Majapahit, tahun 1293 Masehi.
Dikisahkan, sebagai putri seorang penguasa Kerajaan Singhasari, Gayatri tumbuh di lingkungan keraton. Namun bungsu empat bersaudara ini nampak berbeda, dirinya pendiam dan jarang bergaul dengan teman seusianya.
Ketika beranjak dewasa, Gayatri menjadi saksi keruntuhan Kerajaan Singhasari akibat serangan Kerajaan Kediri. Ayahnya, Kertanegara dibunuh Jayakatwang. Sejak saat itu, Gayatri bersumpah untuk memujudkan kembali kebesaran Singhasari.
Kisah pun berlanjut dengan hubungan asmara antara Gayatri dan Raden Wijaya hingga akhirnya berhasil merebut kembali Kerajaan Singhasari dari tangan Jayakatwang. Setelah Kediri ditaklukkan, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit.
Dari Pernikahan Raden Wijaya dan Gayatri, mereka dikaruniai dua orang putri yakni, Tribhuana Tunggadewi dan Rajadewi. Dari rahim Tribhuana Tunggadewi, lahirlah Hayam Wuruk yang membawa masa keemasan Majapahit.
Naskah Opera Gayatri Majapahit ini ditulis tahun 2018 lalu, berdasarkan berbagai sumber sejarah. Salah satunya mengadaptasi isi berita Kakawin Negarakertagama, karangan Mpu Prapanca.
Tak hanya dari Kitab Desawarnana, Mhyajo selaku sutradara opera juga dibatu arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jatim. Dirinya ingin, narasi dan cerita yang disuguhkan dalam Opera Gayatri Majapahit benar-benar sesuai sejarah.
“”Jadi runutan kejadian-kejadian itu tidak saya otak-atik, itu adalah sejarah. Orang-orang yang menyaksikan saya anggap sama seperti saya yang hanya tahu kulitnya. Sehingga menyaksikannya, seperti membaca tanpa digurui,” katanya kepada wartawan.
Komposer Opera Gayatri Majapahit, Franky Raden, menjelaskan, dirinya sengaja memasukkan alat musik tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Karena ia ingin, memunculkan sekaligus memadukan komposisi musik Nusantara.
“Musiknya kita ciptakan baru, dengan nafas yang baru. Musik ini memang untuk keperluan sebuah opera, kalau dihubungkan dengan Operasi Gayatri, ini semacam The Next Project Majapahit,” ungkapnya.
Sementara itu Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Fitra Arda menyebut dua hal yang bisa dicapai dalam melestarikan budaya. Yakni, ketahanan budaya dan kontribusi peradaban negara Indonesia kepada dunia.
Pementasan drama musikal seperti Opera Gayatri dalam Gaung Sakala Bumi Majapahit, merupakan cara baru menyampaikan sejarah di era kekinian. Sehingga generasi saat ini dan yang akan datang, semakin memahami sejarah dari peradaban masa lalu yang dimiliki Bangsa Indonesia.
“Ini salah langka bagaimana kita mengaktualkan kembali tokoh-tokoh masa lalu, dan ini sangat menginspirasi. Ini langkah yang bisa kita warisan kepada generasi berikutnya,” terangnya.
Pementasan Opera Gayatri di Pusat Informasi Majapahit ini sebagai pembuka Gaung Sakala Bumi Majapahit, untuk memperingati Hari Jadi Majapahit ke-730. Sebelumnya Opera Gayatri ini, pernah dipentaskan di Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada Bulan Oktober 2023 lalu.
Gaung Sakala Bumi Majapahit merupakan hasil kerjasama BPK Wilayah IX Jatim dengan Ditjen Kebudayaan, Ditjen Perfilman dan Media Kemendikbudristek. Puncak peringatan Hari Jadi Majapahit ke-730, rencananya bakal digelar pada tanggal 11-12 November 2023 mendatang.