Berhari.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo terus mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung pemerintah pusat. Salah satu wujud nyatanya adalah peresmian dapur baru Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kelurahan Magersari, Kecamatan Sidoarjo.
Dapur ini dikelola oleh Yayasan Perempuan Semangat Garuda dan mampu memproduksi hingga 4.000 porsi makanan bergizi setiap hari. Paket makanan tersebut didistribusikan ke sejumlah sekolah di wilayah Kecamatan Sidoarjo, seperti TK Magersari, SDN Magersari, SMPN 1, dan SMPN 2 Sidoarjo.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, Lakhmie Herawati, menegaskan bahwa Pemkab Sidoarjo berkomitmen penuh mendukung program MBG Presiden Prabowo. Ia menyebut, keberhasilan program ini membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.
“Program MBG tidak bisa hanya dijalankan pemerintah pusat. Perlu dukungan dan kolaborasi dengan pemerintah daerah agar hasilnya maksimal,” ujarnya, Senin (25/8).
Dapur MBG ini, kata Herawati, telah memenuhi syarat ketat, mulai dari sarana, prasarana, hingga SDM yang kompeten. Para juru masak wajib mengikuti pelatihan khusus dan memiliki sertifikat penjamah makanan untuk memastikan kualitas dan keamanan pangan tetap terjaga.
Herawati mengimbau, seluruh pengelola dapur MBG di Sidoarjo untuk terus mematuhi regulasi dan menjaga kualitas layanan.
Sementara itu Ketua Yayasan Perempuan Semangat Garuda, Rahmawati, mengungkapkan sebanyak 20 juru masak disiapkan untuk menyediakan 4.000 porsi makanan. Proses masak dilakukan lima hari dalam seminggu, dan makanan disajikan dalam wadah stainless steel untuk menjaga kualitasnya.
“Saya sering lihat anak-anak ke sekolah tanpa sarapan. Dengan MBG, mereka bisa makan langsung di sekolah dengan gizi seimbang. Ini penting untuk mendukung tumbuh kembang mereka,” jelas Rahmawati.
Dapur SPPG Magersari ini tidak asal berdiri. Pemerintah mewajibkan setiap dapur MBG memenuhi standar operasional yang ketat. Mulai dari peralatan dapur, kebersihan, alur kerja, hingga pelatihan juru masak, semua diatur agar tidak ada risiko bagi kesehatan anak-anak penerima program.