Pasutri di Mojokerto Meraup Cuan Puluhan Juta Rupiah dari Pot Bunga Limbah Kelapa

Buang Iriawan (50) menunjukkan hasil kreasi buah tangannya, pot bunga kerucut berbahan sabut kelapa. Foto Okrik-berhari.com

Berhari.com – Pasangan suami istri Warga Pohjejer, Kecamatan Gondang, Mojokerto, suskes berkreasi dengan membuat pot bunga berbahan limbah sabut kelapa. Dari buah tangannya itu, Buang Iriawan (50) dan Apsari Kartika (38) bisa meraup omzet puluhan juta rupiah setiap bulannya.

Berbagai motif dan bentuk pot bunga dibuat pasangan suami istri yang telah dikaruniai dua anak ini, seperti kerucut, setengah lingkaran dan bulat. Dalam sehari, mereka bisa membuat 100 pot bunga sabut kelapa yang biasa terpasang di teras dan tembok rumah.

Tak banyak waktu lama untuk membuat pot bunga, meski membutuhkan ketelatenan dalam merangkai sabut kelapa. Waktu yang dibutuhkan 15 hingga 30 menit untuk menyelesaikan satu pot bunga, tergantung ukuran.

Selain sabut kelapa, pasangan suami istri yang sejak empat tahun lalu menjadi perajin pot bunga tersebut, juga menyiapkan kawat strimin. Logam anti karat ini sengaja mereka siapkan sebagai wadah, agar sabut kelapa bisa dengan mudah dibentuk sesuai keinginan.

Sabut kelapa yang sudah dipilah-pilah, dirangkai dan dimasukkan ke dalam wadah kawat strimin yang telah dibentuk. Setelah itu bagian ujungnya, dirajut atau dijahit secara manual agar sabut kelapa tidak keluar dari wadah.

Menurut Buang Iriawan, ide membuat pot bunga ini berawal saat dirinya berjualan kelapa di Pasar Pohjejer. Ia kesulitan membuang limbah kulit kelapa yang kerap menumpuk, di depan lapaknya.

“Saya berpikir bagaimana cara untuk membuangnya. Memang sebagian kulit kelapa diambil sama orang untuk kayu bakar, tapi masih banyak sisanya. Lalu saya mengambil sabut kelapa dan saya bawa pulang ke rumah,” ujar Buang di rumahnya, Rabu (15/01/23).

Sejak saat itu, Buang bersama istrinya mencoba membuat pot bunga dari limbah sabut kelapa. Sabut-sabut kelapa terus dibawa pulang dan memaksanya untuk membeli mesin pengurai sabut kelapa.

Usahanya itu tak sia-sia, semakin hari hasil kerajinan pot bunganya banyak dimintai. Karena tak bisa merawat mesin ketika terjadi kerusakan, akhirnya Buang menjual mesin pengurai sabut kelapa.

“Untuk memenuhi sabut kelapa, saya mengandalkan kiriman dari teman di Madura. Saya sendiri sudah tidak berjual kelapa di pasar, fokus membuat pot bunga. Ya, lumayan hasilnya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” terangnya.

Buang mengatakan, ia bisa meraup omzet 20 juta rupiah setiap bulan. Satu pot bunga dijual seharga 15 hingga 25 ribu rupiah. Tak jarang buang mendapat pesanan dari pelanggan, dengan ukuran pot bunga cukup besar yang ia jual 200 ribu rupiah.

Selain dijual ke warga sekitar, pot-pot bunga sabut kelapa buah tangan Buang juga dikirim ke toko-toko bunga di luar kota. Banyak stan-stan penjual bunga di Surabaya, Malang, Sidoarjo dan Yogjakarta memesan kreasi pot bunga sabut kelapa ke Buang.

“Kalau pot bunga dari sabut kelapa ini, biasanya untuk tanaman hias. Ya, misalnya Anggrek, Anglaonema, Sanseviera,” tandasnya.

Pilihan Editor
930 x 180 AD PLACEMENT