Berhari.com – Terpuruk hingga rugi puluhan juta rupiah, tak membuat Priyo Handoko (52) dan Rohmatin (49) patah semangat, untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Pasangan suami istri (pasutri) warga Jotangan, Kecamatan Mojosari, Mojokerto ini terus berusaha bangkit.
Berkat kerja kerasnya, pasutri yang dikaruniai empat anak tersebut, kini sukses menjadi peternak jangkrik. Dengan memanfaatkan lahan kosong di samping rumah, mereka membudidayakan jangkrik di sela-sela kesibukan sebagai buruh tani.
Ada dua jenis jangkrik yang mereka budidaya, yakni Jangkrik Kalung dan Cliring. Kedua jenis jangkrik itu dipilih, karena lebih kuat dan tahan dari serangan penyakit jika dibanding dengan jangkrik biasa.
Tak hanya itu, Jangkrik Kalung dan Cliring mudah perawatannya dan tidak membutuhkan biaya mahal. Setiap harinya, mereka memberi makan jangkrik dengan jagung muda, batang dan daun pepaya serta pakan ternak ayam.

Menurut Rohmatin, budidaya jangkrik ditekuni bersama suaminya sejak tahun 2000 silam, usai peternakan bebek bangkrut. Bahkan mereka rugi hingga 40 juta rupiah, karena ternak bebek banyak yang mati akibat diserang penyakit.
“Awalnya ternak bebek, terus saya dan suami beralih beternak jangkrik. Resiko kerugian ternak bebek sangat tinggi, belum lagi harga pakan yang mahal. Sehingga kami terus mengalami kerugian,” ujarnya.
Modal yang dikeluarkan untuk budidaya jangkrik, tidak sebanyak saat beternak bebek. Selain menyiapkan kandang, biaya yang dikeluarkan hanya saat membeli telur jangkrik untuk pembibitan yang menetas selama 12 hari.
Telur Jangkrik Kalung dibeli seharga 150 ribu rupiah per kilogram, sedangkan telur Jangkrik Cliring 250 ribu rupiah per kilogram. Usai menetas, bibit jangkrik akan ditaruh ke kandang kayu berukuran 1 x 2 meter.
“Jumlah jangkrik di setiap kandang tidak bisa menghitung, ya mungkin ribuan. Telur jangkrik yang sudah menetas dibagi ke beberapa kandang,” ungkapnya.

Agar pertumbuhannya bagus, setiap kandang diberi tray telur ayam berbahan kertas sebagai sarang jangkrik. Ketika berumur 30 hari sejak penetasan, lanjut Rohmatin, Jangkrik Kalung dan Cliring siap dipanen.
“Jangkrik Kalung 25 ribu per kilogram, sedangkan Jangkrik Cliring 30 ribu rupiah per kilogram. Saat panen, tengkulak langsung datang ke rumah untuk membeli jangkrik. Biasanya kalau jangkrik itu, untuk pakan burung,” terangnya.
Rohmatin menjelaskan, masing-masing kandang mampu menghasilkan 20 hingga 30 kilogram jangkrik. Bahkan, jika dalam kondisi bagus dan tidak banyak yang mati setiap kandang bisa menghasilkan 50 kilogram.
“Ya Alhamdulillah, bisa menambah penghasil kami sebagai buruh tani. Keuntungan bersih setiap bulannya bisa mencapai 3 juta rupiah,” tandasnya.