Berhari.com – Kolam kuno peninggalan Kerajaan Majapahit, di Desa Trowulan, Kecamatan Triwulan, Kabupaten Mojokerto, mengering, dampak musim kemarau. Kondisi ini menjadi berkah bagi warga sekitar kolam dan kawanan Burung Bangau bermigrasi.
Tanah lumpur yang merupakan dasa kolam dengan pembatas dinding berbahan bata merah kuno setinggi 3,16 meter tersebut,tampak pecah-pecah. Sebagian tanah lumpur lainnya yang lama mengering telah ditumbuhi rumput.
Terlihat juga kubangan layaknya danau di dasar kolam, dengan menyisakan sedikit air. Warga sekitar Kolam Segaran pun turun ke dasar kolam dan memanfaatkannya untuk mencari ikan dengan menebarkan jaring.
Menurut warga, kolam kuno seluas tiga kali lapangan sepak bola tersebut mengering sejak satu bulan terakhir. Sebelumnya air kolam penuh, tapi pada musim kemarau tahun ini air cepat menyusut seiring musim kemarau panjang.
“Bersama tiga teman, tiap dua hari sekali mencari ikan dengan menebar jaring. Kalau dapatnya tidak mesti, biasanya sih 10 kilogram Ikan Mujair,” ujar Supriyo (60) warga Trowulan.
Supriyo menyebut, bukan pertama kali ini Kolam Segaran ini mengering dan debit airnya menyusut. Pada musim kemarau tiga tahun lalu, kolam kuno peninggalan abad 14 masehi tersebut juga mengalami kondisi serupa.
“Tapi musim kemarau tahun ini, kondisinya lebih parah. Ya, karena musim kemarau yang panjang, kalau dulu masih ada hujan turun, meski di musim kemarau,” terangnya.
Selain berkah bagi warga sekitar, kubangan air di dasar kolam juga menjadi tempat migrasi kawanan Burung Bangau mencari makan. Dan dapat dipastikan mulai pagi hingga sore kawanan Burung Bangau putih akan memenuhi kubangan air di dasar kolam.
Kolam Segaran sendiri merupakan kolam kuno peninggalan Kerajaan Majapahit yang ditemukan pada tahun 1926 oleh Belanda. Dimasa Majapahit, Kolam Segaran berfungsi untuk mengairi sawah warga sekaligus tempat penampungan air dan mengendalikan banjir.