Berhari.com – Puluhan hektar lahan pertanian warga di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Mojokerto, terendam banjir luapan Sungai Avour Watudakon, Kamis (23/02/23). Selain area persawahan, akses jalan penghubung antar desa juga terputus akibat banjir.
Menurut warga, hujan deras yang terjadi Rabu sore hingga malam menyebabkan Sungai Avour Watudakon tak mampu menampung debit air. Terlebih, sejumlah kawasan di wilayah Jombang yang berbatasan dengan Desa Tempuran juga diguyur hujan deras.
“Air banjir mulai merendam area persawahan sejak pagi tadi dan ketinggian banjir terus bertambah. Tak hanya dari luapan sungai, banjir yang terjadi juga disebabkan kiriman air dari wilayah Kecamatan Kesamben, Jombang,” kata Amirul (35).
Tanaman padi, jagung dan tebu, lanjut Amirul, semua terendam banjir. Bahkan sebagian tanaman padi yang masih berumur 1,5 bulan tidak tampak di permukaan. Dan jika banjir tidak segera surut, maka dipastikan tanaman padi akan mati dan petani merugi.
Sementara itu, akses jalan penghubung antar desa juga tergenang akibat luapan Sungai Avour Watudakon. Pengendara sepeda motor yang nekat melintas, terpaksa menuntun motor mereka karena mesin mati terkena air banjir.
“Kalau mobil dan truk bisa lewat, karena mesinnya di atas. Tapi kalau sepeda motor, mesinnya pasti terendam dan mati. Jalan yang tergenang sepanjang kurang lebih 50 meter, dan ketinggian banjir di jalan kira-kira 20-30 sentimeter,” ujar Sudarwitanto (55).
Banjir yang merendam area persawahan dan jalan di Desa Tempuran ini, kerap terjadi setiap tahun saat musim hujan. “Kalau di sini sudah menjadi langganan banjir. Bahkan 3 tahun lalu, banjir terjadi hampir sepekan,” terangnya.
Sementara itu akibat banjir, aktivitas warga terganggu khususnya warga yang tinggal di Perumahan Harmony Alam, Desa Tempuran. Karena sebagian besar kawasan perumahan terendam banjir setinggi 15-30 sentimeter. Meski terendam banjir, warga perumahan belum ada yang mengungsi.