Berhari.com – Delapan rumah warga di Dusun Ketangi, Desa Ngembeh, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, terancam ambruk. Bahkan beberapa rumah warga, sudah dalam kondisi menggantung usai tanah pondasi bangunan longsor diterjang luapan Sungai Ngembeh.
Menurut salah satu pemilik rumah, Sumito (68), rumah-rumah warga yang terancam ambruk tersebut, berada di bantaran sungai. Tebing Sungai Ngembeh setinggi 35 meter dibelakang rumahnya, sudah tiga kali longsor.
“Sudah tiga kali longsor, sejak musim hujan tahun ini. Luapan air mengalir cukup deras, menerjang tebing bantaran sungai, sehingga longsor,” ujarnya, Sabtu (20/04).
Sumito mengaku, peristiwa serupa juga terjadi tahun lalu, akan tetapi tidak separah saat ini. Hujan dengan intensitas tinggi di kawasan Gunung Welirang, Kecamatan Pacet, menyebabkan Sungai Ngembeh, meluap.
“Kalau airnya berasal dari sana, Pacet. Pekan lalu kan hujan sangat deras, jadi debit air sungai meningkat,” terangnya.
Tebing bantaran sungai yang longsor, juga membuat bagian belakang rumah yang dijadikan dapur dan kandang ternak ayam milik Sumito, amblas. Seluruh perabot rumah jatuh ke sungai hingga hanyut terbawa arus.
“Ya, seperti ini kondisinya. Dapur rumah saya jatuh ke sungai, perabot-perabot di dalamnya hingga terbawa derasnya air sungai,” tuturnya.
Tak hanya dapur dan kandang ayam milik Sumito, kondisi rumah tetangganya juga tak jauh berbeda. Diantara tembok rumah-rumah tetangganya yang terdampak longsor, juga sudah banyak yang retak.
Meski mengaku takut karena sewaktu-waktu rumah ambruk, namun tak ada niat dari Sumito dan warga lainnya untuk pindah. Mereka berharap, Pemkab Mojokerto melalui dinas terkait segara membangun plengsengan, untuk mencegah longsor.
“Kalau takut ya takut. Kan rumah warisan orang tua, jadi saya dan warga lainnya untuk saat ini memilih bertahan dulu,” tandasnya.