Berhari.com – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar Camp Pemuda Literasi Digital di salah satu hotel di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jumat (22/09/23). Camp literasi digital ini, diikuti puluhan pemuda dari lima desa rintisan pancasila.
Diantaranya Desa Rejuno dan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Desa Wonocoyo, Kabupaten Trenggalek, Desa Watutulis, Kabupaten Sidoarjo dan Desa Pesanggrahan, Kabupaten Mojokerto. Para peserta akan mendapat pelatihan literasi digital selama tiga hari, mulai 22-25 September 2023.
Kegiatan tersebut sengaja digelar seiring perkembangan informasi yang cepat di era digital, seperti saat ini. Terlebih, perkembangan teknologi yang pesat tidak diimbangi dengan kemampuan dari sumber daya manusia yang menggunakannya.
Dalam sambutannya Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Unesa, Bambang Sigit Widodo, menyebut, pemanfaatan teknologi yang tidak sesuai bisa berdampak luas di masyarakat. Karena di era serba digital ini penyebar hoaks masif dilakukan, maka hal itu sangat berbahaya.
“Apalagi ini tahun politik, penyebaran informasi melalui media sosial sangat luar biasa dimana 94 persen pengguna internet adalah media sosial. Kita ingin mengedukasi masyarakat, khususnya pemuda tentang pentingnya melek literasi,” ujarnya.
Menurut Bambang, pemuda-pemuda desa memiliki peran penting dalam memproteksi penyebaran berita bohong yang dapat memecah belah hingga menimbulkan konflik. Sehingga perlu pemahaman, baik dalam menggunakan dan memanfaatkan teknologi dengan baik, terutama media sosial.
“Penguatan berbasis desa, menurut saya ini upaya menyelamatkan bangsa karena konflik itu dimulai dari bawah. Ke depan, tidak hanya rintisan desa pancasila tapi juga desa tangguh yang memang desa itu terproteksi dari upaya memecah belah,” katanya.
Lebih lanjut Bambang mengungkapkan, generasi muda saat ini merupakan disiapkan untuk Indonesia emas di tahun 2045. Camp Pemuda Literasi Digital merupakan kegiatan yang penting bagi Indonesia, untuk menjadi bangsa yang kuat dan maju.
“Karena anda semua pemimpin masa depan, tetaplah semangat dalam mendarmabaktikan diri untuk bangsa. Jangan pernah bertanya apa yang diberikan negara untuk kita, tapi bagaimana kita berkontribusi untuk bangsa ini,” pesannya.
Sementara itu Mochammad Afif, Kepala Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, yang mengirimkan 15 pemuda nya, mengapresiasi kegiatan yang digagas Unesa. “Kami ucapkan terimakasih, saya sangat mengapresisiasi ide dan gerakan dari Unesa,” katanya.
Afif mengakui, perkembangan teknologi yang pesat menjadi keresahan tersendiri bagi desa. Meski era digital adalah sebuah keniscayaan, akan tetapi jika tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan masalah.
“Kalau kita ngomong mudhorot itu pasti ada, sejauh itu tidak dimanage dengan baik. Kegiatan ini, kalau saya boleh menilai adalah salah satu ikhtiar, bagaimana kemudian era digital bisa membawa kemajuan dan kemanfaatan,” jelasnya.
Untuk itu, ia menyarankan kepada para peserta Camp Pemuda Literasi Digital serius mengikuti pelatihan agar mendapatkan ilmu. Dengan harapan, usai mengikuti pelatihan bisa langsung diaplikasikan ke desa.
“Kepada 15 penduduk saya dan semua peserta, ikuti pelatihan dengan serius dan aplikasikan semua yang didapat sepulang dari sini. Apa yang menjadi cita-cita kita semua, insyaalloh bisa tercapai dimulai dengan apa yang kita lakukan hari ini,” pungkasnya.