Berhari.com – Dengan masih mempertahankan kualitas rasa, Bubur Seruntul Bu Saudah menjadi salah satu kuliner legendaris di Kota Mojokerto.
Buka setiap hari mulai pukul 7 pagi hingga 2 siang, kuliner legendaris di Jalan Mayjen Sungkono, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, selalu ramai pembeli.
Tak hanya Mojokerto, banyak pelanggan yang datang dari luar daerah. Seperti Malang, Sidoarjo, Surabaya, Jombang hingga Bandung.
Pelanggan rela datang jauh-jauh, hanya ingin menikmati legit manis semangkuk Bubur Seruntul Bu Saudah, yang tetap eksis sejak puluhan tahun.
“Ini tadi kebetulan libur, jadi saya sempatkan datang kesini, makan bubur. Kalau saya sudah menjadi pelanggan sejak SMA,” kata Farah, Kamis (13/07/23).
Tak hanya rasa yang khas, terang Farah, tekstur seruntul yang kenyal dan lembut menjadi sensasi tersendiri baginya. Sehingga membedakan Bubur Seruntul Bu Saudah dengan buru seruntul lain.
“Paling ya seminggu dua kali datang kesini, bersama suami. Yang istimewa itu seruntulnya, beda dengan yang lain,” ungkapnya.
Selain dinikmati di lokasi, tak jarang pelanggan yang membungkus bubur seruntul untuk oleh-oleh keluarga di rumah.
Saat ini Bubur Seruntul Bu Saudah telah memasuki generasi kedua dan diteruskan oleh Sumiasih, menantunya. Sumiasih mulai ikut berjualan bubur seruntul sejak tahun 1989.
Menurut Sumiasih, bahan utama untuk membuat bubur seruntul yakni tepung beras dan tepung ketan. Selain seruntul, isian bubur juga terdapat mutiara, dawet dan bubur putih.
“Saya tidak pernah merubah takaran dari bahan-bahan membuat bubur seruntul. Mungkin itu yang membuat rasa bubur seruntul masih tetap terjaga sampai saat ini,” ujarnya.
Agar semakin menggugah selera, Sumiasih, mencampur bubur seruntul dengan gula jawa dan santan kelapa yang dijual seharga 7 ribu ruiah per porsi.
“Dulu sempat diberi dan dicampur ketan hitam, namun kini sudah tidak lagi. Biasanya kalau pelanggan itu ngomong, rasa seruntulnya yang beda dengan yang lain,” pungkasnya.