Berhari.com – Pementasan Panji Laras memeriahkan Gaung Sakala Bumi Majapahit dalam rangka HUT Majapahit ke-730, di Lapangan Trowulan, Mojokerto, Sabtu (11/11/23) malam. Belasan anak-anak dari SDN 3 Jombang, dilibatkan dalam Sendratari Panji Laras ini.
Dilibatkan anak-anak dalam pementasan Panji Laras tersebut, untuk melestarikan seni dan budaya sejak dini. Selain itu, untuk memberi pengetahuan serta wawasan kepada anak-anak cara merawat warisan budaya leluhur.
“Paling tidak kita tanamkan ke diri mereka bahwa Kebudayaan daerah wajib dicintai dan dilestarikan,” ujarnya usai pementasan Panji Laras.
Dengan melibatkan anak-anak bermain di Panji Laras, menurut Ayu, secara tidak langsung mereka turut menjaga, melestarikan seni dan Kebudayaan daerah.
“Filosofinya juga sebenarnya, bagi pembelajaran karakter anak itu sangat mendalam sekali. Nantinya bisa mempengaruhi kehidupan anak-anak, seperti tutur bahasa, berbicara dengan orang yang lebih tua maupun teman-temannya,” terangnya.
Dosen UNP Kediri ini mengungkapkan, jika Kabupaten Jombang merupakan bagian dari peradaban Majapahit. Sehingga ia menginginkan, anak-anak yang turut memainkan Panji Laras setidaknya mengetahui dan tertarik mempelajari seni dan budaya.
“Tugas kami disini sebagai budayawan tidak hanya dosen, yakni bagaimana memberikan wawasan. Walaupun mereka tidak mencintai tapi paling tidak mengetahui, bukan hanya cerita namun seni pertunjukan,” paparnya.
Cerita Panji Laras, Perkuat Karakter Pendidikan Anak
Kisah Panji Laras mengisahkan tentang pencarian anak yang sebenarnya ia adalah seorang putra mahkota.
Ayu Titis Rukmana Sari mengungkapkan, pementasan Panji Laras yang dibawakan anak didiknya itu menceritakan tentang seorang anak mencari ayahnya yang sebenarnya adalah seorang raja di Kerajaan Jenggala.
Memiliki istri bernama Candra Kirana yang diusir oleh Wadalkarti (Tokoh jahat), karena berniat ingin menguasai kerajaan dari ayah panji. Dalam pelariannya itu, Candra Kirana dalam kondisi hamil mengandung panji.
Singkat cerita, ditengah perjalanan Batoro Narodo (Batara Narada) memberikan telur emas ke panji. Telur emas itu menetas menjadi ayam ajaib yang bisa bicara.
Dalam pencariannya, Panji akhirnya mengetahui sang ayah adalah seorang raja tersohor dari Kerajaan Jenggala.
“Panji menemukan jawaban dari pencariannya selama ini yang ternyata ayahnya ialah seorang raja. Akhirnya bertemu dengan ayahnya tetapi melalui simbol saja, karena ini cerita anak-anak jadi tidak ada (Lakon) ibu dan bapak,” ucap Ayu Titis Rukmana.
Ayu mengatakan, makna yang tersirat dalam Panji Laras berisi kebaikan dapat menguatkan karakter pendidikan anak.
“Panji sosok bertanggung jawab, sosok gemar belajar, baik hati dan suka menolong. Sebenarnya dalam kisah panji itu sendiri, kalau untuk anak-anak dan berbeda lagi kalau untuk orang dewasa,” pungkasnya.