Berhari.com – Ratusan warga di Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, mengikuti Ruwat Sukerta yang digelar Yayasan Tlasih 87, Rabu (02/08/23). Dalam Ruwat Sukerta ini, peserta wajib mengenakan kain putih simbol kesucian untuk menutup badan.
Mereka dimandikan dan disiram air yang dicampur bunga tujuh rupa sebanyak tiga kali oleh panitia Ruwat Sukerta. Usai dimandikan rambut dan kuku peserta dipotong, untuk selanjutnya dilarung ke Sungai Brantas.
Tak hanya dari Mojokerto, peserta Ruwat Sukerta juga datang dari berbagai wilayah di Jawa Timur. Seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, lamongan dan Jombang hingga Banjarnegara, Jawa tengah. Bahkan ada peserta ruwat yang datang dari Malaysia dan Brunei Darussalam.
Rata-rata peserta mengaku, baru kali ini mengikuti Ruwat Sukerta yang digelar satu tahun sekali di Bulan Suro, pada penanggalan Jawa. Peserta rela datang jauh-jauh, hanya untuk mengikuti Ruwat Sukerta di Padepokan Tlasih 87.
“Baru kali ini ikut ruwat, datang bersama tiga orang anggota keluarga. Selain berdoa, kita tadi juga ikut siraman, potong rambut dan kuku. Minta panjang umur, sehat, rejeki barokah,” kata Winda (39) asal Krian, Kabupaten Sidoarjo, kepada berharicom.
Pendiri Yayasan Tlasih 87, Kanjeng Pangeran Haryo Adipati Wiro Wongsonegoro, mengatakan, Ruwat Sukerta dibagi menjadi dua. Yakni sukerta yang datang dari Sang Pencipta dan kesalahan dari manusia sendiri.
“Contoh sukerta dari pencipta, misalnya anak ontang-anting, sendang kapit pancuran, pendowo pendawi dan anak lahir kena kalung usus. Sedangkan bagian sukerta dari manusia, di antaranya orang membakar rambut dan berdiri di tengah pintu ,” terangnya.
Pria yang dikenal dengan nama Wiro Kandeg ini menjelaskan, Ruwat Sukerta merupakan tradisi leluhur untuk membersihkan manusia dari energi negatif. Ruwat Sukerta tersebut diyakini bisa mendatangkan rejeki, berkah, keselamatan dan terhindar dari keburukan.
Usai menggelar Ruwat Sukerta, Padepokan Tlasih 87 akan mengadakan Ruwat Bumi Nusantara. Menurutnya, Ruwat Bumi Nusantara sebagai wujud rasa syukur atas limpahan rejeki dan berkah yang diberikan Sang Pencipta.
“Kita pijak bumi dan tanah, kita ambil makanan tanpa rasa syukur kepada ibu pertiwi, tapi kita melupakan. Ruwat Bumi Nusantara ini adalah wujud syukur kepada Sang Pencipta yang menjadi tradisi dari warisan leluhur,” ungkapnya.