Gema Pitu Mojokerto, Ning Hana Tekankan Peran Orang Tua Cegah Stunting

Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Mojokerto, Ning Hana, disambut puluhan anak-anak saat mendatangai Kantor Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, untuk sosialisasi Gema Pitu.

Berhari.com – Pemerintah Kabupaten Mojokerto terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui Gerakan Bersama Masyarakat di Posyandu Terintegrasi Terpadu (Gema Pitu). Kegiatan kali ini digelar di Kantor Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, dengan menghadirkan Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Mojokerto, Shofiya Hanak Albarra atau yang akrab disapa Ning Hana.

Dalam kegiatan tersebut, Ning Hana mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak sejak dini. Menurutnya, masyarakat harus memahami perbedaan antara pertumbuhan dan perkembangan anak agar pencegahan stunting dapat dilakukan secara optimal.

“Buku KIA ini jimat panjenengan. Di sini ada kolom-kolom stimulasi untuk mendukung perkembangan yang wajib diisi orang tua, bukan diisi kader,” tegas Ning Hana, Selasa (4/8).

Selain mendorong pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), ia juga mengedukasi para orang tua agar memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) sesuai usia dengan mengutamakan bahan makanan alami dan membatasi penggunaan gula, garam, serta penyedap rasa.

Ning Hana juga mengingatkan ibu hamil untuk menghindari faktor risiko kehamilan melalui prinsip 4T, yakni tidak terlalu muda, tidak terlalu tua, tidak terlalu dekat jarak kehamilan, dan tidak terlalu banyak melahirkan. Ia turut mengingatkan bahaya paparan asap rokok yang dapat mengganggu penyerapan nutrisi pada janin dan meningkatkan risiko stunting.

Tak hanya berfokus pada kesehatan, Ning Hana menjelaskan bahwa transformasi Posyandu kini menjadikannya sebagai Posyandu Terintegrasi Terpadu yang memberikan layanan enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM), mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga sosial.

“Posyandu ini mengalami perubahan, sebenarnya lebih terintegrasi, lebih komplit. Yang dulunya hanya dalam pelayanan kesehatan, sekarang ditambah lagi dengan bidang-bidang yang lainnya,” ujarnya.

Pada bidang pendidikan, Ning Hana mengimbau orang tua untuk tidak mengenalkan gadget kepada anak usia 0–2 tahun. Menurutnya, masa tersebut merupakan periode emas perkembangan otak yang harus dioptimalkan melalui interaksi langsung dan literasi dengan buku.

“Anak usia 0 sampai 2 tahun dimaksimalkan mengenal literasi lewat buku saja. No screen time, tidak dikenalkan gadget karena di usia itu perkembangan otaknya sangat pesat,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat aktif melaporkan keberadaan Anak Tidak Sekolah (ATS) agar pemerintah dapat memberikan pendampingan dan solusi sesuai penyebab yang dihadapi, baik melalui pendidikan formal maupun PKBM.

Pilihan Editor
930 x 180 AD PLACEMENT