Berhari.com – Pemerintah Kabupaten Mojokerto terus memperkuat upaya pencegahan stunting sejak usia remaja. Bunda Genre Kabupaten Mojokerto, Shofiya Hana Albarra, mengajak pelajar membangun kebiasaan hidup sehat dengan menjauhi rokok, mencegah anemia, dan memenuhi kebutuhan gizi.
Pesan itu disampaikan Bunda Hana saat menghadiri Program Remaja Sehat Cegah Rokok dan Anemia (Praja Satria) di SMK Pemuda Kutorejo, Jumat (7/8). Para peserta mengikuti senam bersama, minum susu, serta mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sebelum mendapat edukasi kesehatan.
Bunda Hana menilai pencegahan stunting harus dimulai jauh sebelum seseorang menjadi orang tua. Ia mendorong remaja memahami pentingnya gizi seimbang, kesehatan reproduksi, pencegahan anemia, serta lingkungan yang bebas asap rokok.
“Remaja hari ini adalah calon orang tua di masa depan, sehingga mereka perlu memahami pentingnya gizi dan bahaya rokok sejak sekarang,” ujar Bunda Hana.
Ia juga mengingatkan bahwa dampak rokok tidak hanya menyerang perokok aktif. Paparan asap rokok dapat mengganggu kesehatan anak dan anggota keluarga sehingga rumah serta lingkungan bebas asap rokok perlu terus didorong.
Data Asesmen Hasil Program Kegiatan Sekolah Bareng Dokter Spesialis Anak (DPSA) Kabupaten Mojokerto 2024 menunjukkan paparan asap rokok dan polusi menjadi salah satu faktor yang banyak ditemukan dalam intervensi anak usia 0–60 bulan. Faktor tersebut tercatat mencapai 65 persen di 27 Puskesmas, disusul pola asuh 45 persen, kondisi ekonomi kurang 20 persen, serta riwayat prematur atau BBLR 10 persen.
Karena itu, Bunda Hana menekankan perlunya kolaborasi untuk memperkuat pencegahan stunting di Kabupaten Mojokerto. Edukasi kepada remaja dinilai penting agar mereka tumbuh sebagai generasi yang sehat sekaligus siap menjadi calon orang tua yang memahami kesehatan keluarga.
Selain bahaya rokok, remaja putri juga perlu memperhatikan kecukupan gizi dan rutin mengonsumsi TTD untuk membantu mencegah anemia. Sekolah juga didorong memperkuat Kawasan Tanpa Rokok (KTR), skrining kesehatan, edukasi kesehatan, serta membentuk kelompok sebaya sebagai agen perubahan.
Bunda Hana berharap Program Praja Satria tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia ingin para pelajar menerapkan kebiasaan hidup sehat dari diri sendiri dan menularkannya kepada teman maupun keluarga.
“Anak-anak dan remaja harus menjadi agen perubahan untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas asap rokok,” tandasnya.