Berhari.com – Warga Dusun Keramatjetak, Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, Mojokerto, menyulap kebun bambu seluas 1,8 hektar menjadi pasar bernuansa tempoe doeloe.
Aneka jajanan tradisional ditawarkan para pedagang pasar, yang semuanya merupakan warga desa setempat. Seperti gulali, ketan sambal, klanting dan masih banyak lainnya.
Sementara untuk minuman tradisional ada jamu kunyit asam, dawet dan beras kencur. Untuk menambah kesegaran dari minuman legendaris ini, pengunjung bisa menambahkan es.
Menu masakan jaman dulu yang masih eksis hingga saat ini, di antaranya nasi lodeh dan pecel juga ditawarkan pedagang. Tentunnya ditambah dengan lauk yang menggugah selera.
Pengunjung bisa menikmati berbagai macam masakan dan jajanan tradisional, langsung di lokasi. Nuansa tempoe doeloe, semakin terasa ketika menyantapnya di bawah rerimbun pohon bambu.
Tak hanya dari Mojokerto, pengunjung juga datang dari luar daerah. Seperti Surabaya, Jombang, Sidoarjo, Gresik dan Malang.
Pengunjung rela menempuh perjalanan jauh, demi melihat aktivitas di Pasar Keramat. Mereka mengaku penasaran dengan para pedagang, yang mengenakan pakaian masa lampau.
“Saya datang bersama dengan keluarga. Ternyata di sini (Pasar Keramat), cukup menarik. Banyak makanan dan jajanan tradisional yang dijual dan rasanya cukup enak,” kata Wiwin, pengunjung asal Solo.
Menurutnya, konsep Pasar Tradisional seperti ini harus terus dikembangkan. “Warga harus diberdayakan semua. Alangkah baiknya, lebih banyak lagi melibatkan UMKM desa,”ujarnya.
Sementara itu salah satu tim pengelola Pasar Keramat, Laili Nuhidayati mengatakan, Pasar Keramat buka setiap Minggu Kliwon dan Minggu Legi.
Menurutnya, pengunjung cukup antusias sejak pertama kali dibuka dua bulan lalu. Bahkan pengelola dibuat kewalahan, melayani penukaran uang dari pengunjung yang mencapai ribuan orang.
“Kalau pengunjung ingin membeli makanan maupun jajanan, harus menukarkan uang mereka dengan uang gobok. kan, konsep kita Pasar Tradisional,” terangnya
Ide mendirikan Pasar Keramat, lanjut Laili, berawal dari keinginan warga untuk melestarikan budaya warisan leluhur. Mereka lalu memanfaatkan kebun bambu, untuk menjadi Pasar Tradisional.
“Kebun bambu ini sebenarnya bekas tempat pembuangan sampah. Kami gotong-royong membersihkan lahan tanaman bambu untuk menjadi Pasar Tradisional,” ungkapnya.
Karena lahan yang ditempati milik 27 warga, maka mereka semua yang berdagang di Pasar Keramat. Ada juga sebagian dari para pelaku UMKM desa, salah satunya perajin batik.
Keberadaan Pasar Keramat ini diharapkan mampu meningkatkan perekonomian warga, dan menjadi unggulan destinasi wisata budaya di Mojokerto.