Cerita Korban Banjir, Lansia Sebatangkara Terbangun Saat Kasur Basah

Suntriasih (62) Warga Gembongan menunjukkan kondisi kasurnya yang basah usai terendam banjir, Sabtu (11/02/23). Foto Okrik-berhari.com

Berhari.com – Banjir yang merendam pemukiman di Dusun Gembongan, Desa Jotangan, dan Dusun Balongcangak, Desa Kedunggempol, Kecamatan Mojosari, Mojokerto, berangsur-angsur surut.

Meski demikian, banjir akibat tanggul Sungai Tambakagung jebol belum membuat aktivitas warga kembali normal, Sabtu (11/02/23) pagi.

Karena jalan desa masih tergenang air dengan ketinggian 15 sentimeter dari sebelumnya 70 sentimeter. Hal inilah yang menyebabkan, masih terbatasnya aktivitas warga.

Tak hanya itu, meski genangan air jauh berkurang dibanding hari sebelumnya, masih terdapat rumah warga yang terendam banjir. Salah satunya, rumah milik Suntriasih (62) warga Gembongan.

Suntriasih yang tinggal sendirian di rumahnya itu, belum menata semua perabot dan membiarkannya berserakan. Karena lantai rumahnya, masih dipenuhi air luapan sungai.

“Ya, saya biarkan saja di situ (atas meja), soalnya masih ada genangan air,” kata Suntriasih, sambil menunjuk kamar tidurnya.

Saat peristiwa terjadi, ia yang terlelap tidur tak menyadari akan datangnya banjir. Dirinya baru terbangun pukul 1.30 Jumat dinihari, ketika kasur tempat tidurnya terkena air banjir.

 “Saya tidak tahu, kalau ada banjir. Waktu itu tidur di lantai, memakai kasur. Tiba-tiba merasa dingin, lalu saya bangun. Ternyata kasurnya basah,” terangnya.

Suntriasih mengaku, sejak banjir yang menerjang pemukiman Dusun Gembongan dua hari lalu, aktivitasnya terganggu. air banjir merendam dapur rumahnya, sehingga ia tak bisa memasak.

Tak ada yang menemani pada saat musibah banjir, membuatnya sedih. “Tidak ada yang mengajak berbicara, semua tetangga mengungsi ke tempat saudara. Ya, sedih,” ungkapnya.

Untuk makan Suntriasih mengandalkan, distribusi makanan dari dapur umum Dinas Sosial Kabupaten Mojokerto. “Dikirim dua kali sehari, pagi dan sore,” ujarnya.

Suntriasih berharap, tanggul sungai yang jebol segera diperbaiki. Agar bencana banjir tidak terulang, dan ia bisa terus berjualan di warung peninggalan dari suaminya.

Sementara itu berangsur-angsur surutnya air, dimanfaatkan warga untuk membersihkan rumah mereka dari lumpur sisa-sisa banjir. Warga yang sebelumnya mengungsi, mulai kembali ke rumah masing-masing.

“Ini tadi baru kembali dari rumah mertua di Prambon, Sidoarjo. Kan, airnya sudah surut, saya bersama suami langsung membersihkan rumah,” kata Siti Mahmudah (38).

Saat banjir terjadi, rumah yang ditempatinya bersama suami dan dua anaknya, terendam air setinggi 40 sentimeter. Sehingga memaksanya, mengungsi ke tempat yang aman dari banjir.

“Semoga tidak ada banjir lagi, kasihan anak-anak masih sekolah. Saya tidak bekerja selama ada banjir. Bagaimana lagi, sepeda motor mati saat melintasi genangan air,” tandasnya.

Pilihan Editor
930 x 180 AD PLACEMENT