Petani Mojokerto Panen Melimpah Berkat Kemitraan WPI, 8 Ton Padi Per Hektare

Petani Desa Jasem, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, sumringah atas hasil panen padi yang melimpah usai bermitra dengan PT WPI.

Berhari.com – Petani di Desa Jasem Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, tampak sumingrah dengan hasil panen padi tahun ini. Capaian panen padi mereka meningkat hingga 8-9 ton per hektare.

Saat ini per hektare lahan tanaman padi dapat menghasilkan 8 hingga 9 ton gabah kering panen. Sementara sebelumnya, para petani mengalami gagal panen akibat serangan hama tikus dan hanya menghasilkan 1 ton gabah kering sawah per hektarenya.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Abdul Rokhim, mengatakan, meningkatnya hasil panen berkat kerjasama dengan PT Wilmar Padi Indonesia (WPI) Mojokerto. Sebagai mitra, berbagai kebutuhan petani disuplay perusahaan pengolahan padi tersebut.

“Tak hanya pupuk, kami juga diberi bibit serta obat-obatan, yang dibayar panen. Sehingga tidak banyak biaya yang dikeluarkan, sejak mulai tanam hingga panen,” ujar Rokhim, Selasa (06/05).

Menurut Rokhim, Sejak tahun 2021 para petani Desa Kembangsri, mulai kerjasama dan menjadi mitra WPI. Karena keuntungan melimpah seiring meningkatnya hasil panen, banyak petani Kembangsri yang tertarik menjadi mitra WPI.

“Alhamdulillah, petani saya sudah merasakan hasil panennya, dibanding sebelum kerjasama dengan Wilmar. Petani yang menjadi mitra tidak ada yang mengeluh dan tidak merasa dirugikan, bahkan sangat diuntungkan,” jelasnya.

Terlebih, bibit padi yang disediakan oleh WPI merupakan varietas unggulan, yakni impari 32. Karena bibit yang ditanam unggulan, maka hasil panen padi petani juga melimpah.

 “Bibitnya bagus hasilnya pasti bagus, rata-rata panen 8 sampai 9 ton gabah kering sawah per hektarenya. Sebelum gabung Wilmar tidak pernah panen, selain hama tikus juga disebabkan bibit yang ditanam tidak cocok dengan lahan yang digarap,” ungkapnya. 

Lebih lanjut, Rokhim menjelaskan, jika saat ini ia membawahi petani dan Gapoktan 10 desa di Kecamatan Ngoro, Pungging serta Trawas. Mereka tergiur dengan hasil panen dan keuntungan yang didapat, setelah menjadi mitra WPI.

“Selain Kembangsri, juga ada petani Desa Candiharjo, Jasem, Kutogirang yang ikut saya bermitra dengan Wilmar. Kalau luasan lahan tanaman padi kira-kira 99-100 hektare di 5 desa kecamatan Ngoro termasuk desa Jasem, dan ini masih banyak yang ingin ikut bermitra melihat hasil panen yang didapat,” terangnya.

Tidak ada kriteria khusus dari WPI agar petani bisa menjadi mitra. Perusahaan pengolahan padi yang berada di Desa Jasem, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto tersebut, terbuka bagi petani yang ingin bergabung.

“Ada kelompok tani individual dan juga kelompok tani desa, yang ingin diikutkan program kemitraan. Kita tidak ada kriteria, yang penting petani mau dan komitmen,” kata Faris, Head Farmer Engagement Program PT WPI Mojokerto.

Selama menjalin kemitraan dengan WPI, menurut Faris, para petani akan mendapat panduan terkait pengolahan dan cara budidaya. Sehingga mitra bisa mendapatkan pengetahuan tentang pertanian.

“Tidak hanya terima bibit, pupuk serta obata-obatan, walaupun bayar panen dan hasilnya dikirim ke pabrik, selama budidaya ada pendampingan. Kita ada visit ke lahan, ngecek tanaman dan tanya kendala apa saja yang dihadapi petani,” tuturnya.

Tak hanya pendampingan ke petani mulai tanam hingga masa panen padi, WPI akan melakukan evaluasi hasil temuan di lapangan. Dengan adanya pendampingan dan evaluasi ini, diharapakan visi misi perusahaan yang salah satunya meningkatkan kesejahteraan petani bisa tercapai.

“Selama ini kuncinya di permodalan. Kalau petani butuhnya pestisida sama benih, jadi kita dropingnya pestisida dan benih, Ketika petani butuh pupuk sama benih, kita droping dan pupuknya dari internal perusahaan,” tandasnya.

Pilihan Editor
930 x 180 AD PLACEMENT