Berhari.com – Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Timur terus mempercepat penyerapan Gabah Kering Panen (GKP) dari petani meski puncak panen raya belum sepenuhnya tiba. Hingga 28 Februari 2026, capaian serapan tercatat sudah menembus 379.582 ton GKP atau setara 200.000 ton beras.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Jawa Timur, Langgeng Wisnu, menyebut capaian tersebut melampaui total serapan dalam satu tahun pada periode 2022 hingga 2024.
“Per 28 Februari 2026, serapan kita sudah 379 ribu ton GKP atau 200 ribu ton setara beras. Angka ini bahkan empat kali lipat dibanding capaian pada tanggal yang sama tahun 2025,” ujar Langgeng.
Pada 28 Februari 2025, serapan setara beras tercatat sebesar 52.409 ton. Artinya, awal 2026 menjadi start yang jauh lebih kuat bagi Bulog Jatim dalam menjaga stabilitas harga dan stok pangan.
Bulog Jatim menyerap GKP sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini bertujuan menjaga harga di tingkat petani sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka.
Langgeng menegaskan, seluruh perangkat telah disiapkan secara maksimal, mulai dari Tim Jemput Pangan (TJG), kesiapan anggaran, hingga kolaborasi dengan TNI, Polri, penyuluh pertanian, dan mitra maklon pengolahan gabah.
“Kami intens berkoordinasi sejak awal tahun dan turun langsung memantau titik-titik panen. Jika ada informasi lokasi panen, silakan sampaikan ke tim Bulog melalui Babinsa atau penyuluh. Tim kami akan datang dan membeli sesuai HPP Rp6.500 per kilogram,” jelasnya.
Sebagai salah satu barometer ketahanan pangan nasional, Jawa Timur terus memperkuat perannya sebagai penyuplai beras antar daerah. Hingga akhir Februari 2026, Bulog Jatim telah mengirimkan 70 ribu ton beras ke sembilan provinsi di Indonesia.
“Kami optimistis pada puncak panen Maret–Mei 2026, target serapan 883 ribu ton dalam satu tahun bisa tercapai. Distribusi masih terus berjalan sesuai kebutuhan daerah lain, dan kami siap menopang pasokan nasional,” tegas Langgeng.
Sandya Evi Yulianto, petani asal Kabupaten Joombang mengaku hasil panennya diserap Bulog sesuai harga HPP.
“Alhamdulillah, gabah kami dibeli Rp6.500 per kilo. Dengan luas 2 hektare, hasil panen sekitar 6 sampai 7 ton per hektare. Kami berterima kasih kepada pemerintah dan Bulog,” ujarnya saat ditemui di sawah.
Sementara itu, penyaluran beras SPHP juga terus digencarkan Bulog Jatim. Hingga kini, sebanyak 139 ribu ton telah disalurkan melalui pasar tradisional, ritel modern, outlet BUMN, RPK, KDMP, hingga Gerakan Pangan Murah (GPM) yang melibatkan TNI, Polri, serta pemerintah daerah.
Tak hanya fokus pada gabah dan beras, Bulog Jatim juga mengoptimalkan distribusi Minyak Kita. Dari total pasokan 8,7 juta liter yang diterima, sebanyak 6,2 juta liter telah tersalurkan ke 2.350 pedagang di 160 pasar dan mewajibkan pedagang menjual sesuai HET Rp15.700 per liter.