Berhari.com – Bulan Ramadhan menjadi berkah tersendiri bagi penjual sate tepung di Jalan Wachid Hasyim, Kota Mojokerto. Ratusan warga silih berganti, mengantre untuk membeli sate tepung.
Mereka memburu sate tepung isi telur, usus dan rempela ati sebagai makanan buka puasa. Pembeli rela mengantre lama, menunggu mendapat layanan demi sate tepung.
“Ini tadi sudah mengantre 15 menit, masih menunggu giliran. Sate tepungnya juga masih digoreng,” ujar Diva (27) warga Kelurahan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.
Diva mengaku, sejak awal bulan ramadhan, ia selalu membeli sate tepung untuk takjil. Meski setiap hari, menurut Diva, dirinya tak bosan makan sate tepung telur campur usus.
“Ya sering beli, rasanya enak dan gurih. Beli 10 ribu rupiah, nanti dimakan saat buka puasa. Untuk makan nasi biasanya habis Salad Taraweh,” terangnya.
Tak hanya Diva, banyak pengantre lain yang rela menunggu lama untuk sate tepung yang buka setiap pukul tiga sore. Bahkan di antara mereka ada yang memborong sate tepung sebagai takjil.

“Mau beli 30 ribu rupiah. Kan, banyak orang, dimakan bareng-bareng sama keluarga di rumah,” kata Rodli (37) warga Penompo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.
Banyaknya pembeli yang memburu sate tepung isi telur, usus dan rempela ati tersebut membuat kewalahan Yudi Setiawan (28). Selama ramadhan, Yudi, hanya buka sore saat menjelang buka puasa.
“Kalau hari-hari biasa buka pukul 9 pagi, sampai malam. Tapi saat ramadhan, hanya buka sore sampai jam 11 malam,” bebernya.
Menurut Yudi, saat bulan ramadhan penjualan sate tepung meningkat dua kali lipat.Sate tepung telur campur usus atau rempela ati, dibanderol seribu rupiah per tusuk. Sedangkan sate tepung usus campur rempela ati 2 ribu rupiah per tiga tusuk.
“Jika hari biasa saya menghabiskan 2500 tusuk. Tapi saat bulan puasa, sebanyak 5000 tusuk sate tepung habis terjual selama kurang lebih tiga jam,” tandasnya.