Berhari.com – Upaya Pemerintah Kota Mojokerto dalam menurunkan angka stunting terus membuahkan hasil positif. Hingga April 2025, prevalensi stunting di kota ini berhasil ditekan hingga 1,47%. Bahkan, dua kelurahan yakni Meri dan Purwotengah, telah mencapai status zero stunting sejak akhir 2024.
Capaian tersebut disampaikan Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, dalam acara Penilaian Kinerja Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting yang diselenggarakan secara daring oleh Tim Stunting Provinsi Jawa Timur, Rabu (11/6).
“Penurunan ini bukan kebetulan, melainkan hasil kerja kolaboratif yang berkesinambungan. Kami terus perkuat data, sistem, dan sumber daya di lapangan,” ujar Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota.
Berdasarkan data EPPBGM, angka stunting di Kota Mojokerto terus menurun selama lima tahun terakhir. Dari 7,71% di 2020, turun menjadi 1,54% pada 2024, dan kini tinggal 1,47%.
Data ini diperkuat dengan sistem pelaporan digital bernama Gayatri, yang merekam hasil pemantauan posyandu mulai dari balita hingga lansia, serta terhubung langsung dengan puskesmas dan rumah sakit.
Keberhasilan ini tak lepas dari peran lebih dari 1.600 kader motivator yang mengawasi kondisi gizi di tingkat rumah tangga. Masing-masing kader bertanggung jawab atas 20–30 rumah, memastikan pantauan menyeluruh terhadap balita dan ibu hamil.
“Dengan sistem ini, kita tahu pasti di mana kasus stunting berada, dan kita bisa lakukan intervensi secara cepat,” jelas Ning Ita.
Kota Mojokerto juga menetapkan seluruh 18 kelurahan sebagai lokus Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (PPPS). Komitmen ini tercermin dari perluasan peran OPD: dari 10 OPD di tahun 2022, kini menjadi 19 OPD yang mengampu 179 sub-kegiatan di 2025.
Sejumlah inovasi kreatif turut mendukung percepatan penanganan stunting di Kota Mojokerto. Seperti Gempa Genting (Segenggam Sampah Gawe Anak Stunting), Canting Gula Mojo (Cegah Stunting Gerak Unggul Pemberdayaan Masyarakat).
Dengan kombinasi data akurat, kader yang aktif, kolaborasi lintas sektor, serta inovasi yang menyentuh akar masalah, Kota Mojokerto menegaskan komitmennya untuk melahirkan generasi bebas stunting.