Berhari.com – Pemerintah Kota Mojokerto mulai mematangkan arah pembangunan tahun 2027 melalui Forum Konsultasi Publik Rancangan Awal (Ranwal) RKPD yang digelar di Ruang Sabha Mandala Madya, Balaikota Mojokerto, Jumat (20/2). Forum ini menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi sekaligus memastikan program pembangunan berjalan sesuai kebutuhan riil warga.
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, menegaskan bahwa forum konsultasi publik merupakan tahapan wajib dalam siklus perencanaan daerah. Menurutnya, pembangunan tidak boleh hanya dirancang dari balik meja pemerintah, tetapi harus melibatkan partisipasi masyarakat secara langsung.
“Isu strategis dan prioritas pembangunan tidak hanya dirumuskan oleh pemerintah. Kita perlu masukan dari bawah karena masyarakat adalah sasaran utama pembangunan,” ujar wali kota yang akrab disapa Ning Ita.
Dalam pemaparannya, Ning Ita kembali mengingatkan visi pembangunan Kota Mojokerto 2025–2029, yakni mewujudkan kota yang maju, berdaya saing, berkarakter, sejahtera, dan berkelanjutan. Visi tersebut diterjemahkan ke dalam sejumlah indikator kinerja utama yang menjadi tolok ukur keberhasilan.
Indikator pertama adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada 2025, IPM Kota Mojokerto tercatat sebesar 82,35 atau naik 0,59 poin dibanding tahun sebelumnya. Capaian ini diharapkan terus meningkat secara bertahap dari tahun ke tahun.
Sementara itu, tingkat kemiskinan menjadi indikator kedua yang ditargetkan terus menurun. Ning Ita menekankan pentingnya pengurangan angka kemiskinan secara bertahap, baik dari sisi kedalaman maupun penyebarannya, agar penanganannya lebih fokus dan tepat sasaran.
Di sektor ekonomi, pertumbuhan Kota Mojokerto pada triwulan ketiga 2025 mencapai 5,15 persen. Meski kondisi ekonomi nasional belum sepenuhnya stabil, pemerintah kota tetap optimistis tren pertumbuhan akan terus menguat.
Indikator keempat, gini rasio, juga menunjukkan perbaikan. Penurunan gini rasio menjadi target penting pada 2027 sebagai tanda berkurangnya ketimpangan pendapatan di tengah masyarakat.
Adapun pada indikator tingkat pengangguran terbuka (TPT), Ning Ita mengakui adanya kenaikan meski angka kemiskinan justru menurun. Untuk menjawab tantangan ini, Pemkot Mojokerto mendorong pembukaan lapangan kerja baru melalui operasional 11 SPPG yang masing-masing diperkirakan menyerap sedikitnya 45 tenaga kerja. Selain itu, pabrik rokok baru yang akan beroperasi diproyeksikan menyerap sekitar 600 pekerja.
Tak hanya itu, tiga pabrik rokok yang sempat kolaps pada akhir 2023 kini telah diakuisisi dan direncanakan kembali beroperasi pada 2026. Kondisi ini diyakini akan memperluas kesempatan kerja bagi warga Kota Mojokerto.
Melalui forum RKPD 2027 ini, Ning Ita berharap seluruh pemangku kepentingan dapat memberikan masukan yang konstruktif dan solutif. Setiap saran yang disampaikan akan menjadi bahan penyempurnaan rancangan kebijakan agar pembangunan Kota Mojokerto semakin tepat sasaran dan berdampak nyata bagi masyarakat.